.
SELAMAT DATANG DIFORUM PENGKAJIAN KITAB KUNING PEMATANG SIANTAR, SILAHKAN REGISTER TERLEBIH DAHULU
.

Mahally

Share Button

Untuk Mempermudah memahami muqaddimah, perlu adanya terjemahan.

سْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْبَرِّ الْجَوَادِ، الَّذِي جَلَّتْ نِعَمُهُ عَنْ الْإِحْصَاءِ بِالْأَعْدَادِ، الْمَانُّ بِاللُّطْفِ وَالْإِرْشَادِ، الْهَادِي إلَى سَبِيلِ الرَّشَادِ، الْمُوَفِّقُ لِلتَّفَقُّهِ فِي الدِّينِ مَنْ لَطَفَ بِهِ وَاخْتَارَهُ مِنْ الْعِبَادِ. أَحْمَدُهُ أَبْلَغَ حَمْدٍ وَأَكْمَلَهُ، وَأَزْكَاهُ وَأَشْمَلَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْغَفَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَزَادَهُ فَضْلاً وَشَرَفًا لَدَيْهِ

Artinya :
Nama Allah Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah yg Maha memenuhi kewajiban Dan Maha Bermurah Hati, yang nikmat2-Nya telah diturunkan dari perhitungan bilang, yang maha melembutkan dengan kelembutan Dan petunjuk., Yang maha mengarahkan ke Jalan Petunjuk, Yang maha memberikan taufiq Untuk Memahami Agama bagi siapa saja yg telah dilembutkanya(lathofa)1 dan dipilih dari pada hamba2-Nya.Aku Memuji-Nya dengan sebesar-besarnya pujian Dan kesempurnaannya Dan Kesucian-Nya Dan Keseluruhannya.

Aku Bersaksi Tiada Tuhan selain Allah, Yang maha Esa Dan Maha Pengampun. Dan Aku Bersaksi Bahwa sesungguhnya Muhammad itu Hamba Dan Utusan-NYa, Yang suci dan terpilih SAW. Dan Yang telah Allah tambah Kelebihan dan Kemulian disisi-Nya

 

أَمَّا بَعْدُ) فَإِنَّ الِاشْتِغَالَ بِالْعِلْمِ مِنْ أَفْضَلِ الطَّاعَاتِ، وَأَوْلَى مَا أُنْفِقَتْ فِيهِ نَفَائِسُ الْأَوْقَاتِ، وَقَدْ أَكْثَرَ أَصْحَابُنَا رَحِمَهُمُ اللَّهُ مِنْ التَّصْنِيفِ مِنْ الْمَبْسُوطَاتِ الْمُخْتَصَرَاتِ

Artinya :
Adapun setelah itu : maka sesungguhnya Kesibukan diri dengan aspek ilmu adalah merupakan seafdhal-afdal nya ketaatan. Dan lebih utama lagi adalah menghabiskan seluruh waktu dengan ilmu(Nafais Auqat)2 . Dan banyak dari kalangan para sahabat mengarang kitab yang besar (mabsuthath)3 dan kitab iktisar4 (ringkasan) .

وَأَتْقَنَ مُخْتَصَرَ ” الْمُحَرَّرِ ” لِلْإِمَامِ أَبِي الْقَاسِمِ الرَّافِعِيِّ. رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى ذِي التَّحْقِيقَاتِ، وَهُوَ كَثِيرُ الْفَوَائِدِ، عُمْدَةٌ فِي تَحْقِيقِ الْمَذْهَبِ

Artinya :
Mushonif telah mengerjakan suatu ringkasan Muharrar5 milik Iman Abi QasimAr Rafii, Semoga Allah memberikan Rahmat kepadanya, yang memiliki beberapa Tahqiq6 dan Ia merupakan kitab yg mempunyai banyak faedah dan merupakan penopang pada tahqiq/hakikat mazhab.

مُعْتَمَدٌ لِلْمُفْتِي وَغَيْرِهِ مِنْ أُولِي الرَّغَبَاتِ، وَقَدْ الْتَزَمَ مُصَنِّفُهُ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنْ يَنُصَّ عَلَى مَا صَحَّحَهُ مُعْظَمُ الْأَصْحَابِ وَوَفَّى بِمَا الْتَزَمَهُ وَهُوَ مِنْ أَهَمِّ أَوْ أَهَمِّ الْمَطْلُوبَاتِ لَكِنْ فِي حَجْمِهِ كِبَرٌ يَعْجِزُ عَنْ حِفْظِهِ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعَصْرِ إلَّا بَعْضَ أَهْلِ الْعِنَايَاتِ

Artinya;
Juga Merupakan Kitab yg diperpegangi oleh mufti2 maupun selainnya yaitu dr semua orang yang memiliki pengharapan, Dan pengarangnya (RH) telah melazimkan karangannya atas Nash2 yg dishahihkan oleh pembesar2 shabat. Dan beliau (mushonif) menyempurnakan dengan apa yg sudah menjadi keharusan/lazim dan itulah dia yang lebih diperlukan/penting atau lebih sekedar penting yang harus dicari. Akan tetapi pada ukurannya besar yg dapat melemahkan hapalan kebanyakan golongan Ahli Ashar kecuali sebagian ahli inayat.

فَرَأَيْت اخْتِصَارَهُ فِي نَحْوِ نِصْفِ حَجْمِهِ، لِيَسْهُلَ حِفْظُهُ مَعَ مَا أُضَمِّنُهُ إلَيْهِ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ النَّفَائِسِ الْمُسْتَجِدَّاتِ

Artinya :
Aku melihat ringkasannya berkurang menjadi sekitar setengah ukurannya, Insya Allah membuat menghapalnya lebih mudah, serta aku selipkan Insya Allah untuk masalah pribadi yg termotipasi /berkembang, diantaranya adalah :

مِنْهَا التَّنْبِيهُ عَلَى قُيُودٍ فِي بَعْضِ الْمَسَائِلِ هِيَ مِنْ الْأَصْلِ مَحْذُوفَاتٌ، وَمِنْهَا مَوَاضِعُ يَسِيرَةٌ ذَكَرَهَا فِي الْمُحَرَّرِ عَلَى خِلَافِ الْمُخْتَارِ فِي الْمَذْهَبِ كَمَ ا سَتَرَاهَا إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى وَاضِحَاتٍ

Sebagian dari itu adalah peringatan terhadap kaedah pada sebagian masalah yg dia adalah masalah pokok yg dibuang. Dan sebagian lagi adalah topik2 yg banyak, yg telah disebutkan dalam kitab muharrar berdasarkan khilaf yg dipilih dalam pendapat mazhab, berapa banyak yg ia biarkan Insya Allah jadi jelas.

وَمِنْهَا إبْدَالُ مَا كَانَ مِنْ أَلْفَاظِهِ غَرِيبًا، أَوْ مُوهِمًا خِلَافَ الصَّوَابِ بِأَوْضَحَ وَأَخْصَرَ مِنْهُ بِعِبَارَاتٍ جَلِيَّاتٍ، وَمِنْهَا بَيَانُ الْقَوْلَيْنِ وَالْوَجْهَيْنِ وَالطَّرِيقَيْنِ وَالنَّصِّ، وَمَرَاتِبُ الْخِلَافِ فِي جَمِيعِ الْحَالَاتِ

Artinya :
Termasuk sebagiannya adalah penggantian dari kata2 yang aneh(7) , atau tidak jelas yg menyalahi kebenaran, dengan yg lebih jelas dan meringkasnya dengan ibarat yg jelas. Dan sebagianya lagi adalah penjelasan dua Qoul, dua pandangan, dan dua jalan dan Nash2 . Dan Khilaf itu tersusun pada semua keadaan.

 

فَحَيْثُ أَقُولُ: فِي الْأَظْهَرِ أَوْ الْمَشْهُورِ فَمِنْ الْقَوْلَيْنِ أَوْ الْأَقْوَالِ، فَإِنْ قَوِيَ الْخِلَافُ قُلْت الْأَظْهَرُ وَإِلَّا فَالْمَشْهُورُ

Artinya :
Maka sekiranya aku (Nawawy) katakan : Pada pendapat yg Azhar atau Mashuur, maka itu artinya pendapat berasal dr dua pendapat atau beberapa pendapat. Jika khilaf/lawannya itu kuat maka aku katakana itu azhar, dan jika tidak kuat maka pendapat itu mashuur.(8)

وَحَيْثُ أَقُولُ: الْمَذْهَبُ فَمِنْ الطَّرِيقَيْنِ أَوْ الطُّرُقِ

Artinya:
Sekiranya aku katakan : Al Mazhab(9) , maka itu adalah dari dua pandangan{opsi} atau beberapa pandangan {opsi}.

وَحَيْثُ أَقُولُ الْأَصَحُّ أَوْ الصَّحِيحُ فَمِنْ الْوَجْهَيْنِ أَوْ الْأَوْجُهِ، فَإِنْ قَوِيَ الْخِلَافُ قُلْت: الْأَصَحُّ وَإِلَّا فَالصَّحِيحُ

Artinya:
Dan sekiranya aku katakan : Al Asha(10) atau shahih, maka itu dari dua wajah atau beberapa wajah(al Aujah)11 , jika khilanya itu lebih kuat, maka aku katakan itu pendapat asha jika tidak berarti itu shahiih.

وَحَيْثُ أَقُولُ: النَّصُّ فَهُوَ نَصُّ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ، وَيَكُونُ هُنَاكَ وَجْهٌ ضَعِيفٌ أَوْ قَوْلٌ مُخَرَّجٌ

Dan sekiranya aku katakan : An Nash(12) maka itu Nash syafi’I RH. Dan adalah itu pandangan yg lemah atau pendapat yang di takrij.

 

وَحَيْثُ أَقُولُ: الْجَدِيدُ فَالْقَدِيمُ خِلَافُهُ، أَوْ الْقَدِيمُ، أَوْ فِي قَوْلٍ قَدِيمٍ فَالْجَدِيدُ خِلَافُهُ

Artinya:
Dan sekiranya aku katakana : Al Jadiid(13) maka pendapat al Qadiim(14) lawannya, atau Qaul Qadiim maka lawanya adalah Qaul Jadiid.

 

وَحَيْثُ أَقُولُ: وَقِيلَ كَذَا فَهُوَ وَجْهٌ ضَعِيفٌ وَالصَّحِيحُ أَوْ الْأَصَحُّ خِلَافُهُ

Artinya:
Dan sekiranya aku katakana : Dan ini dikatakan seperti ini (kadza)15 , maka itu pendapat yang lemah, Dan jika aku katakan As Sahiih, maka Al Ashaa lawannya.

وَحَيْثُ أَقُولُ: وَفِي قَوْلٍ كَذَا فَالرَّاجِعُ خِلَافُهُ

Artinya:
Dan sekiranya aku katakan : Wa fii Qaulin Kadza(16) , maka pendapat Raji’lah lawannya.

 

وَمِنْهَا مَسَائِلُ نَفِيسَةٌ أَضُمُّهَا إلَيْهِ يَنْبَغِي أَنْ لَا يُخَلَّى الْكِتَابُ مِنْهَا وَأَقُولُ فِي أَوَّلِهَا قُلْت، وَفِي آخِرِهَا، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

Artinya:
Diantaranya lagi yang diselipkan ( oleh Imam Nawawi) adalah masalah2 pribadi yang aku berharap masalah2 tersebut sudah sepantasnya (kitab) itu tidak sunyi daripadanya. Dan aku katakan pada awalnya Qultu dan pada Akhirnya Wallahu a’lam.

وَمَا وَجَدْتَهُ مِنْ زِيَادَةِ لَفْظَةٍ وَنَحْوِهَا عَلَى مَا فِي الْمُحَرَّرِ فَاعْتَمِدْهَا فَلَا بُدَّ مِنْهَا، وَكَذَا مَا وَجَدْتَهُ مِنْ الْأَذْكَارِ مُخَالِفًا لِمَا فِي الْمُحَرَّرِ وَغَيْرِهِ مِنْ كُتُبِ الْفِقْهِ فَاعْتَمِدْهُ فَإِنِّي حَقَّقْتُهُ مِنْ كُتُبِ الْحَدِيثِ الْمُعْتَمَدَةِ

Artinya :
Dan apa yang engkau dapati didalam kitab tersebut dari tambahan lafadz dan seumpamanya atas apa yang ada didalam kitab Muharrar (Muharar kitab Imam Rafi’i), maka pegang teguhlah dia, karena tidak boleh tidak itu memang dari padanya. Dan demikian juga apa2 yang engkau dapati dari kitab azkar itu adalah sebagai mukhalif/perbandingan bagi apa yang ada didalam kitab muharrar dan lainnya dari beberapa kitab fiqh, maka pegang teguh lah dia, karena sesungguhnya aku telah mentahqiqkannya dari beberapa kitab hadist yang perpegangi.

 

وَقَدْ أُقَدِّمُ بَعْضَ مَسَائِلِ الْفَصْلِ لِمُنَاسَبَةٍ أَوْ اخْتِصَارٍ، وَرُبَّمَا قَدَّمْت فَصْلاً لِلْمُنَاسَبَةِ، وَأَرْجُو إنْ تَمَّ هَذَا الْمُخْتَصَرُ أَنْ يَكُونَ فِي مَعْنَى الشَّرْحِ لِلْمُحَرَّرِ

Artinya :
Dan terkadang aku dahulukan sebagian beberapa masalah pasal karena adanya keidentikan(17) atau karena tujuan untuk meringkas. Dan sedikit sekali aku mendahulukan pasal untuk tujuan yang identik dan aku berharap jika Mukhtashar ini sempurna/selesai adalah hal ini berada pada makna syarah muharrar(18).

 

وَقَدْ شَرَعْت فِي جَمْعِ جُزْءٍ لَطِيفٍ عَلَى صُورَةِ الشَّرْحِ لِدَقَائِقِ هَذَا الْمُخْتَصَرِ، وَمَقْصُودِي بِهِ التَّنْبِيهُ عَلَى الْحِكْمَةِ فِي الْعُدُولِ عَنْ عِبَارَةِ الْمُحَرَّر

Artinya :
Dan sungguh aku telah memasukkan pada semua kumpulan bagian terkecil atas ekpresi/gambaran syarah untuk tujuan esensi mukthtasar ini, dan maksudku dengan itu adalah membertahukan (informasi) atas adanya hikmah pada gudang perbendaharaan yang berasal dari Ibarat Muharrar (19).

وَفِي إلْحَاقِ قَيْدٍ أَوْ حَرْفٍ أَوْ شَرْطٍ لِلْمَسْأَلَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَأَكْثَرَ ذَلِكَ مِنْ الضَّرُورِيَّاتِ الَّتِي لَا بُدَّ مِنْهَ

Artinya :
Dan (Aku juga memasukkan) pada kaitan kaedah atau huruf atau syarat untuk suatu masalah dan sebagainya dan kebanyakan hal itu dari kasus2 darury yang tidak boleh tidak (mesti) hal itu daripadanya.

وَعَلَى اللَّهِ الْكَرِيمِ اعْتِمَادِي، وَإِلَيْهِ تَفْوِيضِي وَاسْتِنَادِي، وَأَسْأَلُهُ النَّفْعَ بِهِ لِي وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَرِضْوَانَهُ عَنِّي، وَعَنْ أَحِبَّائِي وَجَمِيعِ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya:
Dan Atas Nama Allah yg karim aku berpegang teguh, dan kepada-Nya lah aku menyerahkan diri dan bersandar. Dan aku meminta kepada-Nya dengan kitab ini semoga ada mamfaatnya bagiku dan untuk seluruh muslimin, dan dariku keridhoan-Nya aku berharap dan aku meminta dari kecintaanku dan seluruh mukmin.

———————————————————————————————————————
Keterangan :

1- Menurut Iman Qolyubi dalam kitabnya juz I hal. 8, lafadz ini bermakna (أَيْ أَرَادَ بِهِ الْخَيْرَ)

2- Nafaisul auqat adalah seluruh waktu.

3- Al Mabsuthath itu adalah istilah penyebutan kitab yang besar2, seperti Al um, dll.

4- sedangkan Yang tergolong kepada kitab2 ikhtisar, misalnya minhaj karya Imam Nawawi.

5- Muharrar itu adalah nama kitab milik Imam Rafii, Dimana imam Rafii telah mensyarahkan salah satu dari 4 kitab milik Imam ghozaly yaitu 1.al Bashit, 2. Al wasiith, 3.al Wajiiz, 4.al khulashah. Khusus Al wajiz. Beliau syarahkan menjadi 2 syarah, yang kemudian dikenal dengan a.)syarah shaghir dan b.) syarah kabiir. Konon kabarnya syarah shagiir inilah yang disebut dengan Al Muharror. Sementara syarah kabiir diberi nama dengan Fathul Al ‘Aziiz syarah al wajiiz terdiri dari 12 jilid.

6- Mengenai istilah tahqiq ini umairoh dalam kitab syarahnya juz I hal. 10 memberi komentar sebagai beikut :
قول المتن : ( ذي التحقيقات ) جمع تحقيقة وتحقيق المسائل إثباتها بالأدلة , والتدقيق إثباتها بالأدلة وإثبات الأدلة بأدلة أخرى

7- Imam Nanwi dalam minhaj ini banyak memasukkan perubahan dari teks asli kitab Muharrar, terutama perubahan kata dan kalimat yg dianngap beliau sangat aneh dan jarang dipakai orang pada masa itu.

8- Maksudnya adalah jika pada kitab Minhaj ini terdapat perkataan Imam Nawawi yang mengatakan Azhar atau Mashuur itu artinya pendapat yang kuat dr dua atau beberapa pendapat Imam syfi’i. Jika lawan pendapat itu kuat karena kuat dalilnya maka pendapat kuat itu disebut dengan pendaopat Azhar. Sebaliknya jika lawan pendapatnya itu lemah, karena lemah dalilnya, maka pendapat tersebut disebut dengan Al Mashuur. (lihat dlm kitab qolyubi juz I hlm.31)

9- Adapun yang dimaksud dengan Al Mazhab pada perkataan Imam Nawawi didalam minhajnya adalah sebagai tanda pendapat yang kuat dari dua atau beberapa Thariq(pendapat), baik dari dua atau beberapa pendapat Imam syafii sendiri ataupun dari murid2 imam Syafi’I yang senior (ashabul Mutaqadimin) dalam satu masalah hokum. Lalu pendapat yang kuat ini diistilahkan oleh Imam Nawawi dengan pendapat al Mazhab, dengan pertimbangan “thariq Qotho’” yaitu pendapat yg mengatakan bahwa persoalan hokum disana hanya ada satu pendapat Imam syafi’I atau murid Imam syafii. Atau dr kelompok yang mengatakan bahwa disana ada dua pendapat “Thariq Khilaf” walaupun cocok atau berbeda dengan pendapat pada Thariq khilaf, maka pendapat yg kuat itu disebut al mazhab.(Iktilaf sahabat Imam syafi’I dalam menghikayatkan satu masalah hukum)

10- Maksudnya sekiranya Imam Nawawy berkata : Al Asha atau As Shahih, itu artinya keduanya adalah pendapat yg kuat dr dua atau beberapa pendapat murid Imam Syafi’i. Seandainya lawan pendapat tersebut agak kuat karena kuat dalilnya, maka pendapat itu disebut oleh Imam Nawawy dengan Al Ashoh. Namun jika lawannya dhaif karena dhaif dalilnya, maka pendapat tersebut di istilahkan oleh Imam Nawawy dengan as Shahih.

11- Istilah al Aujah ini adalah pendapat yang berasal dr para shahabat Imam Syafi’I
(لِلْأَصْحَابِ يَسْتَخْرِجُونَهَا مِنْ كَلَامِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ)

12-Jika Imam Nawawy berkata dengan istilah an Nas, maka itu maksudnya bahwa Nash itu adalah pendapat Imam Syafi’I sendiri yang tidak ada muqabilnya (lawan pendapatnya). Namun jika ada muqabilnya dari muridnya berupa pendapat yang dhaif, atau muqabilnya dr hasil Qiasan (analogi) pada pendapat Imam Syafi’I pada masalah lain yang serupa dengan masalah tersebut, maka muqabil tersebut di namakan dengan “Qaul Mukharaj”.

13-Qaul Jadid adalah pendapat Imam Syafi’I pada suatu masalah hukum yang pernah beliau ungkapkan di Mesir, dan sesekali juga pernah pada waktu di Iraq, Pendapat ini di istilahkan oleh ulama dengan kalimat : “Maa istaqoro Ro’yahu ‘alaihi fiiha”

14-Qaul Qadiim adalah pendapat Imam Syafi’I pada suatu masalah hokum yang pernah beliau ungkapkan sewaktu di Iraq, atau sudah pindah dari Iraq akan tetapi belum menetap di Mesir. (salah satu contoh persoalan disini adalah masalah batas penetapan waktu sholat magrib, lihat dalam kitab syarah minhaj karya qolyubi juz I hlm.32)

15-Jika imam Nawawi berkata : Wa Qilaa Kadza itu artinya bahwa pendapat tersebut pendapat yang dhaif dan lawanya adalah pendapat as shahih atau al asha. Khusus untuk kata Kadza diatas para ulama fiqih menyepakati bahwa masalah yang ada didepanya terjadi khilaf dikalangan para fuqaha’.

16-Jika Imam Nawawi berkata seperti ini, itu maksudnya muqabilnya adalah pendapat yang kuat
Maksudnya adalah bahwa beliau (imam Nawawy) mendahulukan pasal2 yang identik untuk didahulukan, karena menurut analisanya mesti didahulukan. Misal didalam kitab muharrar Imam Rafi’I ada mendahulukan sebagian bab ketimbang pasal. Tetapi menurut Imam Nawawi sendiri dalam masalah ini sesekali beliau lakukan.

17-Maksudnya Imam Nawawy disini adalah bahwa beliau dalam kitabnya ini ada menyelipkan beberapa perubahan yang tidak ada terdapat dalam kitab muharrar, baik mengenai pasal dan tujuannya maupun untuk yang lainnya.

18-Juga pada masalah yang berkaitan dengan qaedah, huruf maupun gambaran syarah, kebanyakan pada masalah2 yang berbau daruriyyah, hal ini hanya untuk memberikan info tentang adanya hikmah yang terkandung didalamnya.
———————————————————————————————————————-

NAMA : Drs. SA.SAGALA

ALAMAT : Jln. Asahan KM.13 Simpang Serapuh, Pematang siantar, Simalungun, Sumatera Utara

IBTIDAIYAH : Pondok Pesantren Darussa’adah Kota Fajar Aceh selatan.

TSANAWIYAH : Pondok Pesantren Darussa’adah Kota Fajar Aceh selatan

ALIYAH : Pondok Pesantren Darussa’adah Kota Fajar Aceh selatan

IAIN SUMATERA UTARA

FAKULTAS : SYARI’AH

JURUSAN : PERBANDINGAN MAZHAB & HUKUM


Leave a Reply

SELAMAT DATANG & SELAMAT BERGABUNG DI MY WEB PENGKAJIAN KITAB KUNING KOTA PEMATANG SIANTAR
.